ALT_IMG

Sungai Rokan

Sungai Rokan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh besar pada keadaan kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat di kecamatan tanah putih, juga masyarakat di daerah rokan.

Alt img

Masjid Omeh

Masjid yang berdiri pada tahun 1920-an ini sebenarnya bernama Masjid Al-Mukhlisin, namun pada peristiwa perluasan Masjid yang terletak di Jalan Mansoerdin, RT 01 RW 04 pada tahun 1980an, ditemukan omeh (emas) dalam tempayan hingga akhirnya Masjid ini lebih dikenal dengan nama Masjid Omeh.

Alt img

Rumah Masyarakat Melayu Tanah Putih

Salahsatu sudut perkampungan dengan barisan rumah-rumah panggung khas yang banyak terdapat dikecamatan Tanah Putih.

ALT_IMG

Pasar Sedinginan

Pasar merupakan tempat kegiatan jual-beli berlangsung yang hanya buka pada hari senin, (Hari lainya hanya pagi saja) terletak dipinggir sungai rokan.

ALT_IMG

Madrasah Suluk Thariqat Naqsabandiyah

Salah satu surau suluk yang terletak diseberang Masjid Omeh, disekitar surau suluk ini terdapat beberapa makam pemuka dan penyebar agama Islam, salah satunya makam orang aceh.

Senin, 20 April 2026

Melayu Tambusai di Negeri TinggiSedinginan: Menjaga Marwah Identitas di Tepian Rokan

0 komentar


Dalam bentang alam Sungai Rokan yang mengalir dari hulu hingga ke hilir, tersimpan sebuah narasi identitas yang terjaga rapi selama berabad-abad. Masyarakat Melayu Tambusai merupakan entitas yang unik; mereka secara konsisten tetap teguh dengan identitas "Melayu" meskipun berbagi nafas kebudayaan yang sangat erat dengan saudara serumpun di pedalaman Minangkabau.



Akar Matrilineal: Warisan Melayu Tua dan Andiko 44


Satu hal yang sering menjadi diskusi adalah keberadaan sistem suku atau klan yang mengikuti garis keturunan ibu (matrilineal) di Tambusai. Penting untuk ditegaskan bahwa sistem ini bukanlah sebuah adopsi, melainkan warisan otentik dari peradaban Melayu Tua (Proto-Melayu).
Bukti sejarah menunjukkan bahwa sistem persukuan matrilineal telah mapan dalam struktur Andiko 44 yang berpusat di Muara Takus, Kampar. Jauh sebelum kodifikasi adat yang lebih spesifik muncul di wilayah lain, masyarakat Melayu di kawasan ini telah menjalankan tatanan sosial berbasis suku dengan kepemimpinan Ninik Mamak. Oleh karena itu, bagi masyarakat Melayu Tambusai, menjalankan adat persukuan yang mirip dengan Minangkabau adalah bentuk pelestarian terhadap tatanan asli leluhur Melayu mereka sendiri yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu di bumi Lancang Kuning.

Penghormatan atas Nama Minangkabau

Bagi masyarakat Tambusai, tidak mengeklaim diri sebagai "Minangkabau" bukanlah bentuk pemisahan diri, melainkan sebuah bentuk kejujuran sejarah dan penghormatan. Dalam memori kolektif, nama "Minangkabau" dipandang sebagai sebuah gelar kehormatan sejarah (honorific name) yang lahir dari peristiwa-peristiwa besar di wilayah Luhak Nan Tigo—seperti narasi adu kerbau yang melegenda.
Karena leluhur Melayu Tambusai tidak terlibat dalam linimasa pemberian nama kehormatan tersebut, mereka memilih untuk tetap menggunakan nama asal mereka: Melayu. Ini adalah sikap ksatria dalam beridentitas; mengakui bahwa mereka berasal dari akar yang sama (Melayu Tua), namun tidak mengambil hak atas nama "Minangkabau" yang memiliki sejarah asal-usulnya sendiri.
Logika Konsistensi Identitas
Secara logika, masyarakat Melayu Riau, khususnya Tambusai, memegang prinsip konsistensi. Jika nama "Minangkabau" muncul sebagai identitas spesifik di kemudian hari karena peristiwa sejarah tertentu, maka "Melayu" adalah nama jati diri yang sudah ada jauh sebelumnya. Melayu di Rokan tetap mempertahankan nama "Melayu" tanpa merubahnya, sebagai simbol bahwa mereka adalah penjaga pangkal peradaban yang belum berganti nama sejak zaman purba.

Sumber Referensi Sejarah & Arkeologi

1. Peninggalan Arkeologi & Prasasti:
  • Kompleks Candi Muara Takus (Kampar, Riau):
    • Konteks: Situs ini adalah bukti fisik kejayaan Melayu Tua. Di sinilah pusat Andiko 44, sebuah sistem pemerintahan adat kuno yang sudah mengenal pembagian suku dan hukum matrilineal jauh sebelum pengaruh luar masuk secara masif.
  • Prasasti Kedukan Bukit (683 M) & Prasasti Amoghapasa (1286 M):
    • Lokasi: Palembang & Dharmasraya.
    • Konteks: Kedua prasasti ini secara eksplisit menyebutkan nama "Malayupura" atau "Mo-lo-yu". Ini membuktikan bahwa nama Melayu secara administratif dan politis sudah diakui dunia internasional sejak abad ke-7, jauh sebelum istilah Minangkabau muncul dalam catatan sejarah luar.
2. Teori Asal Nama Minangkabau (Perspektif Tokoh Minang):
Agar narasi ini harmonis, kita merujuk pada teori yang disusun oleh para intelektual Minangkabau sendiri:
  • Teori Adu Kerbau: Berdasarkan sastra lisan Tambo Minang.
  • Teori Minanga Tamwan: Dikaji oleh Prof. Dr. Slamet Muljana, merujuk pada pertemuan sungai yang sering dikaitkan dengan perpindahan pusat kekuasaan.
  • Teori Al-Mukminun Kanabawi: Pandangan religius yang dikutip oleh Buya Hamka.
Masyarakat Tambusai di Sedinginan Negeri Tinggi menghargai semua teori ini sebagai sejarah mulia saudara mereka, namun secara jujur mengakui bahwa leluhur mereka (Melayu Tambusai) tidak memiliki keterkaitan dengan peristiwa-peristiwa tersebut.
3. Daftar Pustaka:
  • Hamka (Prof. Dr. KH. Abdul Malik Karim Amrullah): Islam dan Adat Minangkabau (1984).
  • Effendy, Tenas: Tunjuk Ajar Melayu. (Menjelaskan jati diri Melayu yang inklusif namun teguh pada asal-usul).
  • Schnitger, F.M.: Forgotten Kingdoms in Sumatra (1939). (Membahas peninggalan purbakala di Muara Takus dan aliran sungai di Riau sebagai pusat peradaban kuno).
  • Mansoer, M.D.: Sejarah Minangkabau (1970).

Continue reading →
Minggu, 29 Agustus 2021

Sejarah Nama Rantau Binuang Menjadi Rantau Binuang Sakti

0 komentar
Sultan Mohammad Dzainal Abidin, Raja XIV Tambusai yang berkedudukan di Rantau Benuang


Rantau Binuang Sakti adalah sebuah kampung di pinggir sungai Rokan. Kampung ini terletak di Kecamatan Kepenuhan, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Menurut cerita orang tua-tua, kata Benuang/Binuang berasal dari nama sebuah pohon yang sabgat besar dan sangat nyaman dijadikan tempat berteduh, selain adanya pohon besar tersebut juga terdapat pemandangan alam yang indah, daerah yang merupakan jalan lintas sungai Rokan pada zaman dahulu menjadi daerah persinggahan karena tempat tersebut terasa aman dan nyaman sehingga banyak orang-orang yang lewat dengan berbagai keperluan singgah dan beristirahat sambil menikmati keindahan alam di bawah pohon yang besar tersebut.


 

Rantau Binuang juga merupakan tempat kelahiran Tuan Syeikh Abdul Wahab Rokan Al-Kholidi An-Naqsabandiah , Ulama dan Tuan Guru Naqsabandiah yang terkemuka di Asia Tenggara, Tepatnya di Danau Runda. Sampai saat ini banyak makam-makam Raja dan Tokoh yang terdapat Di Rantau Binuang. Dahulu Rantau Binuang belum dikenal sebagai Rantau Binuang Sakti, ada 2 (Dua) versi cerita yang pernah saya baca mengenai penambahan kata Sakti, salah satunya dari catatan seorang penjelajah asal belanda bernama J.A. van Rijn van Alkemade.


Sejarah Nama Rantau Benuang Sakti Menurut Catatan J.A. van Rijn van Alkemade.

Dalam catatan ekspedisi tahun 1884, seorang penulis Belanda bernama  J.A. van Rijn van Alkemade menuliskan:


 "Sultan Mohammad Dzen, detoegevoegd tegenwoordige moe lang dipertoewan besar in Rantau Binoewang, is de zoon van den hierboven genoemden Sultan Abdoel Wahid en heeft het woord SAKTI aan den naam Van zijn rijk, dat alzoo Rantau Binoewang Sakti heet, toegevoegd" ("Sultan Mohammad Dzen (Sultan Mohammad Dzainal Abidin), sekarang yang dipertoewan besar di Rantau Binoewang, adalah putra dari Sultan Abdul Wahid yg disebutkan di atas, dan telah menambahkan kata Sakti ke nama kerajaannya, yg kemudian disebut Rantau Binoewang Sakti")


Alkemade juga menuliskan:

"Rantau Binoewang is dus te beschouwen als te zijn voortgesproten uit het rijk van Temboesei en het verwondert ons niet dat de instellingen, die te Temboesei adat waren, ook hier worden aangetroffen; de landsinstellingen in Rantau Binoewang zijn derhalve een weerspiegeling van die van Temboesei en worden nog steeds gehandhaafd: Rantau Biuoewaug is een nieuw Temboesei a Tinstar van laatstgenoemd rijk ingericht." ("Rantau Binoewang muncul dari ranah Temboesei (Tambusai), dan kami tidak heran bila lembaga-lembaga yang berada di adat Temboesei juga ditemukan di sini; Oleh karena itu, lembaga-lembaga regional di Rantau Binoewang merupakan cerminan dari Temboesei dan masih dipertahankan: Rantau Binoewang adalah Tenboesei yg baru dari kerajaan selanjutnya")


Sejarah Nama Rantau Benuang Sakti Menurut Cerita Dari Literasi Lokal

Dalam sebuah tulisan blog lentera guru dituliskan:

"Pada masa itu daerah maju, atas prakarsa Syeikh daerah ini mendapatkan bantuan dari luar negeri. Namun kejayaan ini tercium oleh Belanda. Sampai akhirnya Sultan Zainal Abidin ditangkap dipenjara di Madiun. Dan pada tahun 1984 Syeikh Tajudin keturunan Syeikh Abdul Wahab Rokan mendirikan  sebuah rumh persulukan, masing-masing Syeikh dan Kholifah mendapat petunjuk, setiapkholifah merasakan tempat ini memiliki keramat dan kesaktian, sehingga diberi nama “Rantau Binuang Sakti” "


Sumber:

  1. Beschrijving eener reis van Bengkalis langs de Rokan-rivier naar Rantau Binoewang. by RIJN VAN ALKEMADE, J.A. van
  2. Lentera Guru, Rantau Binuang Sakti. By Siregar, Armin.

 

Continue reading →
Rabu, 30 Juni 2021

KISAH BUJANG KELANA

2 komentar
(Catatan Berdasarkan Versi Kampung Balun & Kampung Bantang, Perak, Malaysia) 

 Disalin, Alih Bahasa dan di edit oleh:
M. Rasuma Febri, S.Kom
Bin H.M. Zen Dagagng Bin KH. Arsyad Bin KH Syufi Telukbakung
Suku Mentaolelo dai Uwak Kadih Hitam

   

       Bujang Kelana, adalah anak bungsu dari Raja Tembusai yang bernama Sutan Malim Maharaja Lela (Sampai postingan ini dimuat, Belum ada tulisan yang memuat tentang Sutan Malim Maharaja Lela), yang memerintah tiga buah daerah yaitu:
•Tambusai
•Dalu-dalu
•Sedinginan

 Kisah Asal-usul Bujang Kelana

    Raja Negeri Tembusai yang bernama Sutan Malim Maharaja Lela mempunyai 3 (tiga) orang anak. Anak sulung laki-laki, anak kedua perempuan dan Anak ketiga, anak bungsunya di kenal dengan nama Bujang Kelana. 

    Saat Raja Negeri Tembusai mangkat, terjadilah perebutan kekuasaan antara anak sulung dengan dengan anak Bungsu  (Bujang Kelana) Raja Malim Maharaja Lela, masing-masing tidak ada yg mau mengalah dan ingin menjadi Raja Tembusai. Untuk mencari penyelesaian masalah ini, maka Abang Sulung  menawarkan sebuah tantangan yang tidak masuk akal antara dia dengan Adik Bungsunya, Bujang Kelana. Tantangannya adalah, Bujang Kelana di suruh mengambil seulas durian yang akan dibuat menjadi lempuk, dicincang lumat dan ditanam. Kalau biji durian itu tumbuh, maka Bujang Kelana berhak menjadi Raja Tembusai. Dan untuk abang sulungnya juga akan mengambil seulas durian dalam wadah yang sedang mendidih panas untuk dibuat lempuk dan menanamnya pula. Apabila biji durian itu yang tumbuh, maka Abang Sulung pula lah yang berhak menjadi Raja Tembusai. Bujang Kelana menolak tawaran ini lalu pergi merantau (Berkelana). Bujang Kelana dengan perasaan marah, nekad dan tertantang lalu mengambil sebuah perahu dan berkata kepada Kedua saudaranya san rakyat Tembusai "Mulai saat ini nama hamba ialah 'BUJANG'. Aku merentas Selat Melaka yang luas ini ke Tanah Melayu. Aku pasrah kepada Illahi. Dimana sahaja aku terdampar kelak di situlah aku mengabdikan diri dan sujud kepada Illahi. Namun balik ke Tembusai tidak sekali. Selamat tinggal kekandaku berdua dan selamat tinggal tanah tumpah darahku Tambusai sekalian"

    Maka merantau dan berlayar lah Bujang Kelana yang akhirnya sampai ke Kelang (Selangor, Malaysia). Sebelum beliau naik ke daratan beliau menendang perahunya  dan berkata “Hanyutlah kamu kemana sahaja di bawa arus lautan luas ini dan aku akan ber ’Kelana’ di daratan tanpa ku ketahui kemana arahnya. Aku pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa di mana sahaja rezekiku ditentukan oleh Illahi di situlah aku akan sujud dan mengabdikan diri di bumi bertuah itu nanti"


Bujang Kelana di Tanah Semenanjung Melayu

    Sekitar tahun 1863/1870 (Ada 2 sumber literasi), perjalanan Bujang Kelana akhirnya sampai di daratan Semenanjung Melayu (Malaysia Barat) tepatnya d sebuah kampung yang bernama Lubuk Salak, Selangor. Bujang Kelana adalah seorang yang tampan, rajin, baik budi bahasanya, pandai ilmu agama dan pandai ilmu persilatan. Sifat-sifat terpuji dari Bujang Kelana ini lah yang membuat Beliau mendapatkan perhatian khusus dari Tok Menteri Husain, Orang Besar Daerah Hulu Selangor. Tok Menteri Husain lalu menjodohkan Bujang Kelana  dengan anaknya yang bernama Cik Andak Jiwa.

    Dengan kegigihan Bujang Kelana, beliau akhirnya diberi kepercayaan menjadi kontraktor pembangunan rel keretapi dari Tg Malim ke Sungkai dan kontraktor membuka Ladang terbaik. Untuk memudahkan pekerjaan beliau, Bujang Kelana lalu berpindah ke Kg Bantang pada tahun 1876 dan menetap di sana hingga akhir hayatnya.


Literasi situs Geni

        Dalam literasi lain (Geni) dikatakan bahwa Bujang Kelana lahir tahun 1926 (Menurut salah satu akun bloger bernama "Cucu Tok Adams", Sebetulnya Bujang Kelana lahir 1826, dan wafat 1904) di Langkat Sumatra Utara dan wafat tahun 1904 di Slim River, Perak, Malaysia.Bujang Kelana adalah Seorang Menteri di Kerajaan Tambusai, Beliau meninggalkan Negeri Tambusai, karena adanya masalah dalam keluarga dan Penjajahan Belanda pada saat itu.

    Bujang Kelana Menerima tantangan yang diberikan untuk mengambil seulas durian sebelum Bujang Kelana meninggalkan Negeri Tambusai, Beliau sempat menanam beberapa biji durian yang sudah dibuat lempok, dan kalau biji durian yang beliau tanam itu tumbuh, Beliau akan pulang kembali ke Tembosai. Diceritakan Bujang Kelana memiliki 2 (Dua) Saudara yang semuanya adalah Lelaki, dimana salahsatunya pergi ke Langkawi dan salahsatunya lagi pergi ke Jambi.


Anak Bujang Kelana

        Dari pernikahan Bujang Kelana dengan Cik Andak Jiwa, mereka  dikurniai 4 (Empat) orang anak Yaitu:


•Ibrahim Bin Bujang Kelana
•Alang Bin Bujang Kelana
•Bedah Binti Bujang Kelana
•Othman Bin Bujang Kelana

        Ibrahim Bin Bujang adalah anak sulung Bujang Kelana yang meneruskan usaha-usaha Ayahnya menjadi kontraktor membuka Ladang Cluny, Bedfort, Trolak, Sg Chinoh. Pada masa penjajahan Inggris, beliau dikenali sebagai Mohammad Ibrahim ESQ.


        Ibrahim Bin Bujang serta 32 orang lain telah membuka Kg Balun pada tahun 1920. Maka bermulalah era Kg. Balun yang diyakini banyak orang bahwa nama kampung Balun diambil dari nama Tetua Orang Asli didaerah itu, yaitu Tok Balun

 

Koleksi Foto-Foto

Gapura Kampung Balun Foto: FB Friends Of Perak
 
DT Mohammad Ibrahim Bin Bujang Kelana, Foto : Geni

Surau tiga tingkat, Madrasah Tinggi menjadi tempat ibadat dan penduduk melaksanakan aktiviti kemasyarakatan. Foto : bharian.com

Sekolah Melayu Kampung Balun dibina pada tahun 1931 oleh Tok Empat Mohd Ibrahim Bujang. Foto : bharian.com

Gapura keluar Kampung, Foto : bharian.com

Gapura Masuk Kampung, Foto : bharian.com

Mohon berikan masukkan untuk apabila ada kesalahan dalam penulisan artikel ini, karena hamba penulis memiliki penhgetahuan yang terbatas. Salam dari anak melayu Tambusai Riau.

Continue reading →
Rabu, 28 Oktober 2020

R.M. QOSUM (KH MUKMIN Bin H. Muhammad Nur) Menelusuri Keturunan Raden Di Sedinginan (Part I)

0 komentar

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

        Salam sejahtera untuk semua pembaca yang saya doakan selalu dalam keadaan bahgia. Setelah sekian lam tidak ada berita dan kabar dalam blog yang kita sayangi ini, akhirnya syukur الحمد لله sekarang admin sekaligus penulis kembali mendapatkan bahan tulisan untuk dibahas. Kali ini penulis akan membahas seorang tokoh yang juga seorang yang pejuang di masa penjajahan dulu.

Foto KH Mukmin Dirumah Mak Kiki Bin H Nain Mukmin Di Rimbamelintang
Foto KH Mukmin Dirumah Mak Hakikurahman Bin H Nain Mukmin 
 yang tinggal di Rimbamelintang

            Adalah R.M. Qosum atau yang lebih dikenal dengan nama KH Mukmin oleh masyarakat Sedinginan, lahir di Desa Sukabumi, Kec. Cepogo, Kabupaten Boyolali - Jawa Tengah. Sebenarnya perjalanan hidup dan asal usul beliau sedikit sekali yang saya ketahui, Beberapa cerita tentang beliau pernah saya dapatkan dari Nenek, Atuk, Mamak, Acit dan Ibu saya. 

                Raden, Keraton, Chines, Surakarta, solo, Kebumen dan Yogyakarta adalah kata yang selalu saya dengar dalam cerita perjalanan hidup beliau. Menurut Syamsir Boy Bin H. Hamzah Mukmin, R.M. Qosum mempunyai darah keturunan suku Chines, hal ini pun juga saya yakini karena melihat anak sulung R.M. Qosum, yaitu H.Hamzah Mukmin juga beberapa anak dan cucu R.M. Qosum lainya kebanyakan mempunyai face yang oriental sekali, bahkan H. Hamzah Mukmin sering disangka dari kalangan suku chines saat berada di Bagansiapiapi. Pernah ketika H Hamzah Mukmin sedang dalam urusan bisnis di Bagansiapi-api, saat itu sedang terjadi kerusuhan dengan suku Tionghoa di Bagansiapiapi, H. Hamzah Mukmin harus lari dan sembunyi didalam bak rumah warga karena dikejar massa yang mengira beliau adalah orang tionghoa.


                 H. Hamzah Mukmin Muda            Foto H. Hamzah Mukmin diantara Anaknya
                                                                   Hj. Masneneng  (Kiri Jilbab Hitam)  dan Cucunya   
                                                                        M Rasuma Febri/Abi ( Kanan Baju Putih)     
        
                 Saya ingat pada suatu ketika ,H. Yusuf Mukmin berkata sambil bercanda kepada salah satu Cicit H. Hamzah Mukmin bernama Aya yang kebetulan merupakan keturunan Boyolali, "Kulo tiang Jawi, kalau kato uyut miko potang" (Kulo tiang Jawi, Kalau kata Mbah Uyut kalian dulu). Kulo tiang jawi artinya adalah "Saya Orang Jawa" Merupakan tutur bahasa Jawa Halus. 

                    Menurut catatan yang pernah ditulis H. Hamzah Mukmin di selembar kertas dan juga mendengar cerita dari anggota keluarga lainya, Nama Ayah dari R.M. Qosum adalah H. Muhammad Nur.  Syamsir Boy Bin H. Hamzah Mukmin mengatakan bahwa keluarga R.M. Qosum di Jawa merupakan orang kaya pemilik pabrik dan berpengaruh. Pernah pada saat masa kejayaan toko SAHA ANA milik H. Hamzah Mukmin, H. Hamzah Mukmin saat itu secara keuangan sangat mampu untuk membiayai prjalanan, ingin sekali mengajak Ayahnya R.M. Qosum (KH Mukmin) untuk bersilaturahmi dan berkenalan ke  keluarga Ayahnya yang ada di Jawa, namun keinginan H. Hamzah Bin Mukmin ditolak oleh R.M. Qosum dan mengatakan beliau tidak bisa kembali ke Jawa, kalaupun H. Hamzah Mukmin membawanya kembali kejawa, kemungkinan besar R.M. Qosum tidak akan bisa pulang ke Riau kembali. Dan untuk alasan kenapa beliau tidak bisa pulang ke Riau tidak dijelaskan.

                  Dalam kehidupanya menurut cerita dari Hj. Hesti H Binti H. Hamzah Mukmin, R.M. Qosum adalah orang yang sangat dihormati oleh orang-orang Jawa yang ada di Sedinginan pada saat itu. Beliau adalah orang yang mempunyai badan tegap dan tinggi, kuat dan gigih dalam bekerja. Beliau mempunyai adik yang mirip dengan beliau, dan sering beliau dan adiknya bertukar peran untuk mengelabui tentara jepang yang saat itu menjajah NKRI.




..........Bersambung ke Part II ya. Harap sabar menunggu update-anya :)
Continue reading →
Sabtu, 06 Mei 2017

JADUAL IMSAKIYAH RAMADHAN 1438H (2017)

0 komentar
Assalamualaikum wr.wb

Lama sudah admin tidak menjenguk blog tercinta ini, hingga tak sadar waktupun begitu cepat berlalu, bulan puasa tinggal menghitung minggu dalam hari. Teringat bulan puasa, teringat pula belimau, sahur, buka puasa, mercon, tarawih, kembang api.... banyak sekali kalau admin tuliskan ya... heheh

Mengingat sahur dan buka, terpikir ide untuk mencari jadual imsakiyah yang selama ini kita ikuti sesuai jadual imsakiyah Pekanbaru atau Bagansiapi-api yang walaupun letaknya cukup jauh dari kampong hingga harus menyesuaikan perbedaan menit untuk kota sedinginan.

Setelah browsing kehilir-mudik, akhirnya menimbang hasil referensi admin mengambil sumber dari al-habib.info untuk menjadi panutan jadual imsakiyah. Admin al-habib sendiri menyatakan mungkin ada perbedaan antara 1-2 menit untuk penjaduallannya (perbedaan yang wajar jika di dilihat dari sumber lainya), untuk itu  sebelumnya disini admin blog meminta maaf apabila ada yang kurang berkenan dengan jadual yang admin bagikan.

Berikut adalah hasil dari pencarian jadual imsakiyah yang (insyaAllah) sesuai dengan jadual di kota Kemenangan.


DOWNLOAD


Demikian lah yang dapat admin informasikan kepada pembaca, ssilahkan di download dan semoga bisa dimanfaatkan. Lebih dan kurangnya admin meminta maaf sebesar-besarnya
wassalamualaikum warrahmatullah.....

SUMBER: http://www.al-habib.info/jadwal-shalat/imsakiyah-ramadhan.htm
Continue reading →
Kamis, 30 Maret 2017

Penelusuran Keturunan Uwak Kadih Hitam (Mentaolelo)

0 komentar
Berawal dari rasa penasaran dan keingintahuan penulis tentang asal-usul dan sejarah keluarga, akhirnya muncul pula inisiatif untuk mencari silsilah keluarga dari pihak sebelah omak (sesuai suku), 
Dari hasil cerita orang-orang terdekat ditambah hasil wawancara dengan Atuk KH.Suhaimi Tambusai (yang sekarang tinggal di desa Teluk Pulau), maka kemaren lusa sore (Rabu, 29/03/2017) jadilah sebuah pohon keluarga yang walaupun penulis menyadari masih banyak kekurangan dan mungkin ada kesalahan, karena memang ini lah realisasi pertama dari hasil wawancara dengan orangtua-orangtua yang sudah lama saya lakukan.

Terkenang di hati untuk melanjutkan wawancara dengan keluarga yang lain, namun sayangnya terkendala masalah waktu yang sempit dikarenakan kesibukkan dan  jarak yang tak terlalu jauh. Maka disini penulis mencoba membagikan apa yang sudah di capai dengan harapan ada masukan, tambahan dan koreksi dari berbagai pihak yang mengenal dan mengetahui, utamanya yang ada di kampong, kelurahan sedinginan kota kemenangan.

Adapun hasil yang sudah penulis peroleh bisa dilihat pada gambar dibawah ini:

Garis Keturunan Uwak Kadih Hitam

Apabila ada perbaikan, kritik dan saran yang bersifat membangun, silahkan tulis dikolom komentar atau melalui komen di link blog ini tang penulis bagikan di FB,
Continue reading →
Jumat, 27 September 2013

Kota Kemenangan, Jangan Pernah Tenggelam. (++PICT)

3 komentar


SEDINGINAN, Kota Kemenangan. Ungkapan ini tentunya meerupakan kata-kata yang tak asing ditelinga kita masyarakat Kecamatan tanah Putih dan sekitarnya. Sedinginan dahulunya adalah salah satu daerah administratif yang berkembang pada penjajahan Belanda. Sedinginan sempat mengalami masa kejayaanya sekitar tahun 1950-an, sempat menjadi pusat perdagangan dijalur sungai rokan dan bahkan beberapa suku tionghoa sempat tinggal disini dan hijrah kebagansiapi-api setelah kebakaran besar terjadi dikota sedinginan. Dahulu Sedinginan adalah kota yang cukup maju pada jamannya, Sekolah-sekolah, gedung bioskop GERATES (Gerakan Rakyat Tambusai), pelabuhan, dan toko-toko besar banyak terdapat di Sedinginan pada jaman itu, yang salah satunya adala toko SAHA-ANA milik H. Hamzah Bin KH Mukmin.

Namun kini kejayaanitu tinggal sejarah, bahkan sejarahnya pun hampir tenggelam, Harusnya kita sebagai generasi penerus bisa mengabadikan  sejarah dan mengambil semangat dari kejayaan masa lalu untuk mengembangkan kembali tempat tumpah darah kita.

Setelah hampir setahun tidak menginjak kampung halaman, beberapa waktu lalu saya sempat pulang kekampung halaman dan memotret beberapa sudut dikota Sedinginan. Banyak beberapa tempat yang sudah kehilangan kemegahanya, namun disisi lain tempat-tempat ini menjadi hal indah untuk diabadikan.
 Berikut ini adalah hasil jepret sana sini disudut-sudut kota sedinginan. (Klik Gambar Untuk Memperbesar).

Mushola/Surau Taufiq

Pasar Ikan yang Hampir Roboh Tak Terurus

Seberang Sungai, Peternakan Kerbau H. Yusuf

Salah Satu Rumah Tua dipinggir Sungai Rokan

Sungai Rokan Yang Kaya Dengan Ikan


Boad, Jarang Sekali saya ketemu dengan benda ini.

Jajaran Ruma Tua.
Pasar, Tak Seramai Dahulu.


Masjid omeh
Madrasah Suluk Naqsabandiyah
Salah Seorang Nelayan Membentang Jaring Didalam Sungai Rokan

Suasana Dalam Pasar.

*)Sebenarnya masih banyak kisah Kejayaan Sedinginan yang diceritakan Atuk saya ketika saya pulang kampung kemaren, hanya saja karena terlalu banyak saya jadi lupa :P
Continue reading →
Minggu, 25 Agustus 2013

MELIHAT SEDINGINAN DARI ANGKASA

0 komentar
PENYEBRANGAN SINTONG-PAGAR

KAMPUNG PELITA

MTS SEDINGINAN

SIMPANG UJUNG TANJUNG

PASAR SEDINGINAN

PKS TELUK MEGA

PUSKESMAS RAWAT INAP

SIMPANG KUDOW BANJAR XII

SMA N 1 TANAH PUTIH

SMK N 1 TANAH PUTIH

SMP N 1 TANAH PUTIH

SIMPANG SOLAH

SPBU DAN MASJID AN-NUR UJUNG TANJUNG

SINTONG TANK

Continue reading →
Minggu, 09 September 2012

Rumah Tua Pusaka

5 komentar


Assalamualaikum, lama sudah tak bersua, jika masih ada suasana raye bin yayow bolehlah saya mencuri kesempatan minal aidin walfaidzin. Tidak terasa sudah setahun blog ini tidak saya sentuh, karena disamping kesibukan yang ada, juga karena kurangnya materi-materi yang ingin saya ulas dan masukkan kedalam blog ini.

Libur lebaran yang setahun merupakan kesempatan mudik alias baliek kampong ke Rohil tercinta. Pada lebaran kemaren saya tak melewatkan kesempatan untuk menjepret objek-objek yang khas di kota kemenangan dengan kamera handphone yg seadanya,  berikut adalah hasilnya:


Rumah tua yang terletak didepan Masjid omeh, dengan ukiran khas melayu Tambusai.

Rumah Atuk H. Hamzah

Salah satu rumah tua di Desa Sintong


Akik, MCK tradisional di sungai Rokan

Rumah tua di Desa sedinginan

Itak sidah, Dodol khas orang Rokan.


Continue reading →
Rabu, 21 Desember 2011

Adat Melayu dalam Generasi Mengenal Budaya

0 komentar
"Tuah sakti Hamba negeri
Esa hilang dua terbilang
Patah tumbuh hilang berganti
Takkan melayu hilang dibumi"


Bermula dari perjalanan-perjalanan yang saya lalui dan melihat budaya-budaya yang sangat terjaga dibeberapa tempat yang saya pernah singgahi dan sangat jauh terbalik keadaanya dengan diluar kampung halaman (dalam menjaga adat dan budayanya), timbul sedikit kegelisahan-kegelisahan kecil lama-lama menumpuk dan menggerakkan saya untuk menuangkanya.

Ketika saya berkunjung di salah satu daerah wisata yang ternyata keindahan alamnya jika dibandingkan dengan kampung halaman tidaklah jauh berbeda. Hanya saja selain keindahan alamnya diikuti fasilitas yang memadai, dalamnya budaya adat-istadat yang kuat terjaga membuat daerah tersebut bisa memiliki suasana yang menarik perhatian setiap pengunjungnya. Tak hanya disitu, untuk daerah dan beberapa kota wisata lainya pun saya melihat hal yang sama, yaitu dijaga dan ditonjolkannya budaya-budaya yang lebih menarik wisatawan untuk berkunjung ke daerah tersebut.

Yang saya lihat lebih sebenarnya bukan sekedar kepariwisataan dari daerah tersebut, tapi juga dari keadaan masyarakat di daerah tersebut yang juga berpengaruh terhadap cara hidup dan cara pandang masyarakat tersebut nampak lebih maju, terbuka dan dewasa.

Belakangan, hal-hal tersebut terpikirkan oleh saya sendiri ketika berkumpul dengan kawan-kawan sebaya dikampung yang kebanyakan dari kami tidak paham bahkan tak mengenal adat budaya sendiri. Saya sendiri bahkan bisa saya katakan lebih banyak tau budaya luar dibandingkan budaya adat-istiadat kampung sendiri, dengan bahasa lain bisa saya katakan IRONI walaupun wajar jika dibandingkan dengan kawan sebaya lainya karena sebenarnya saya hanya numpang lahir dikampung.

Memang, melayu takkan hilang dibumi, tapi melayu yang manakah yang tak hilang itu? kalau diperhatikan banyak sudah budaya terlupa, banyak adat tak diingat dan banyak pusaka tak terjaga.

Masa-masa saya kecil pernah saya mendengar ritual-ritual gilo lukah, atit togak (yang tak pernah sempat saya lihat dan ketahui bagaimana),  cerita-cerita yang semakin luntur diingatan, banyak pusaka-pusaka yang bahkan kami (saya dan kawan-kawan sebaya) hampir tak menyadari keberadaanya, katakan saja candi sintung.

Mungkin terlalu lama kita terlena, tapi setidaknya belum terlambat untuk kita perbaiki, karna yang lain patah kita menjadi tumbuh, budaya hilang kita mencari, dan melayu kita takkan hilang di bumi.....
mari kawan-kawan.... :)
abi
Continue reading →
Kamis, 08 Desember 2011

Tuanku Tambusai

0 komentar
Sejarah Tuanku Tambusai

Pada Masa Pemerintahan Raja ke XIV yaitu Sri Sultan Ibrahim gelar Duli Yang Dipertuan Besar, dimana beliau mengangkat seorang Wali Syarak yaitu Imam Maulana Kali dari Kerajaan Rambah,lahirlah Tuanku Tambusai, dimasa kecil Tuanku Tambusai sudah diajar agama bahkan telah berpidato didepan raja.
Umur 7 tahun telah diajarkan baca alquran, serta ilmu fiqih. Sejak terdengan dan populernya Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piobang, yang baru pulang dari Mekah belajar agama, maka Tuanku nan Renceh di negeri Sumatera Barat maka Tuanku Tambusai dikirim belajar kesana
Pada mulanya M. Saleh berguru di Bonjol, disini dikenal tempat pergerakan ulama-ulama yang pulang dari mekah disebut dengan "Gerakan Paderi"
Karena disini selalu terjadi persengketaan dengan adat Minangkabau maka oleh gurunya M. Saleh ditempatkan di Kubung-12 (Rao)
Di Rao inilah M. Saleh atau Tuanku Tambusai memperdala ilmunya, ternyata M. Saleh seorang pemuda yang cerdas. Karena ia dapat menguasai ilmu fiqih ia digelar dengan "Pakih Muhammad Saleh" disingkat Pakih Saleh
Ulama Paderi merasa M. Saleh dapat menyiarkan Islam maka ia diutus untuk itu ke Daerah Toba dan Sekitarnya di mana disini banyak menganut agama Pelbegu, salah satu kepercayaan animisme di Tanah Batak.
Disini ia bersaing dengan misi katolik dan zending Protestan yang mengembangkan agama Kristen.
Setelah berusaha tiba masanya kembali ke Rao dan bersama dengan Pokki Na Ngolngolan.
Pada masa itu Pokih Saleh Banyak berkenalan dengan pembesar dan banyak belajar termasuk dengan seorang Belanda bernama Huender sengaja ditugas Belanda untuk menyelidiki pengaruh Agama Islam di Minangkabau

Dalu-dalu Memanggil

Saat Duli Yang Dipertuan Besar masih memegang tampuk Pemerintahan Kerajaan Tambusai di Dalu-dalu (1819), baginda mulai tua, dimasa itulah Pokih Saleh dipanggil untuk menyelesaikan perkara Agama dan pendidikan agama di Dalu-dalu.

Kemudian Pakih Saleh mendengar perseteruan Belanda dengan Kaum Paderi Meruncing, dan Imamam Maulana Kali ayahnyapun telah meninggal, maka ia menyerahkan pimpinan surau kepada murid kepercayaannya, lalu ia berangkat ke Rao

Di sana Pakih melihat masyarakat hidup sengsara dan dijadikan kerja rodi, Seorang Belanda mandor rodi memandang Pakih Saleh dengan marah, lalu memberi isyarat agar pakih pergi menghindar dari sana.
Sebelum meninggalkan tempat itu pakih Saleh sempat berkata kepada para pekerja, dan perkatan itu telah menimbulkan pengaruh yang tidak terduga dalam bahasa Bel;anda
"Gaat voort...tot er eenmaal een eide zal komen; eenmaal, wie weet wanneer, zal opolik semen de stille kracht"
(Teruslah... hingga sekali waktu sampai batasnya, sekali waktu, siapa tahu entah bila, pasti meledak kekuatan rahasia"
Setelah itu ia pergi ke Gerakan Paderi, dan para ulama Paderi memberi izin untuk berangkat ke Mekah, ke Tanah Suci menunaikan Haji, didalam kapal beliau banyak berkenalan dengan orang-orang hebat dimana seorang Seorang Letnan Inggris yang datang dari Malaysia sedang dalam perjalanan pulang bertemu dengan pakih Saleh di kapal (namanya tidak dituls dalam catatan abdul Qohar)
Pakih Saleh banya belajar strategi perang dengan beliau, modal inilah yang membuatnya selalu berjaya menghadapi Belanda, sehingga Perperangan dengan Paderi ditambah dua tahun lagi, setelah Imam Bonjol jatuh dan Tuanku Imam Bonjol ditawan. Peluang inilah membuat ia bertahan lebih lama menjadi kekuatan Paderi terakhir. Hal inilah
yang membuat Belanda secara emosional memberi nama baru "De Padriesche Tijger van Rokan"

Beliau kembali dari Mekah dan menetap di Padang lawas (1820)

Tuanku Tambusai Tampil di Benteng Rao
Ketika pertikaian antara Paderi dengan kaum adat dan raja-raja, Pakih Saleh tidak ikut campur, itulah sebabnya beliau menyingkir ke Padang Lawas (Mandhiling/Tapanuli Selatan)
Tiga tahun lamanya Sumatera Barat dan Tapanuli Selatan terlibat Perang (1825) Perjanjian damai yang diadakan seperti Perjanjian Masang 22 Januari 1824 tidak pernah bertahan lama, keduabelah pihak saling melanggar.
Pada tanggal 20 Juli 1825 perang Diponegoro Pecah, Hindia Belanda terpaksa mengerahkan pasukan ke Jawa.

Belanda merubah siasat dengan menjalin hubungan bersama Sayed Salim Ul Jufrie, orang arab sebagai perantara pada tanggal 15 Nopember 1925 diadakan perjanjian Padang antara Belanda, berjanji tidak akan saling menyerang.
Oleh sebab itu hingga tahun 1830 Dipertuan Rao masih tetap berkuasa.
Oleh sebab itu Yang Dipertuan Rao tidak ada alasan benci dengan Belanda, namun manatunya si Pokki Na Ngolngolan yang kemudian dikenal dengan Tuanku Rao dapan mengartikan taktik Belanda itu.

Tuanku Rao menantikan kedatangan sama belajar di Kubung-12 Rao yaitu Tuanku Tambusai/Pakih Saleh.
Tuanku Tambusai tiba di Rao Februari 1830 yang disambut Tuanku rao.
Tuanku Tambusai didampingi seorang sahabat dan penasehat pribadinya Imam Perang Muhammad Jawi dan seorang ajudan bernama Haji Muhammad Saman, sedangkan para pengiring berkawal di luar pagar, ketika Tuanku Tambusai selesai mengungkapkan niat jahat Belanda,
Yang Dipertua Rao tetap tidak dapat menerima alasan tersebut "Aku tidak punya alasan untuk memusuhi Belanda"

Akhirnya dibujuk Yang Dipertuan Rao agar menyerahkan kekuasaan kepada Tuanku rao dikarenakan usia Yang Dipertuan Rao tidak memungkinkan lagi, Akhirnya tahun 1830 kekuasan itu diserahkan kepada Tuanku Rao.

Mengapa hal ini perlu dilakukan oleh Tuanku Tambusai, dikarenakan Rao adalah benteng Rao dalam strategi Perang, merupakan pintu gerbang ke tiga jurusan, yakni ke Minangkabau (arah Barat), ke Tapanuli (arah Timur), ke Lhak Tambusai/Riau (arah Utara).

Setelah perang Diponegoro berakhir dengan ditawannya Pangeran Diponegoro  pada tanggal 28 Maret 1830, kekuatan di jawa ditarik lagi ke Sumatera untuk menghadapi perang Paderi.

September 1832 Belanda menyerang Benteng Rao, akhirnya 16 hari bertahan benteng Rao dikosongkan oleh pejuang Paderi (oktober 1832) Tuanku Rao beserta pasukannya mengundurkan diri ke Air Bangis.
Kemenangan ini Belanda merubah nama Benteng Rao dengan FORT AMERONGEN" Dipimpin oleh Letnan Engelbrecht, Van Vervoorden, Letnan Logemann dan Popye.

Mulailah Tuanku Tambusai membuat siasat, menyeludupkan prajurid yang berani mati ke Rao sebagai penduduk disana untuk menculik satu persatu tentara Belanda dan dipenggal kepalanya lalu diletakkan ditengah jalan, hal ini membuat  tentara Belanda yang ada di Fort Amerongen ketakutan takut keluar kampung, dan diperintahkan setiap malam masyarakat memasang lampu di depan rumah.

Belanda memasuki tahun baru 1833 dengan penuh kecemasan. Letnan Engelbrecht mengutus mata-mata ke Tambusai untuk mengetahui pribadi Tuanku Tambusai, mata-mata orang Mandahiling yang besar di Batavia ini menulis semua yang dilihatnya sehingga pada akhir penutupan laporan ditulis kalimat "Een der indrukken, die ik reeds lang, voordat ik in Mandahiling kwam, had is daar zeer versterkt, nl. dat ze is een Padriesche Tijger, een Padriesche Tijger van Rokan.
(Suatu kesan yang telah bersemi dalam diri saya lama sebelum saya datang ke Mandahiling, bertambah keras setelah saya berada disana, yakni bahwa dia adalah seekor harimau padri, seerkor Harimau Paderi yang berasal dari Rokan).

Laporan tersebut membuat prajurit Belanda di Benteng Amerongen ketakutan dan lemah semangat, apalagi beberapa serangan di tempat lain seperti :
7 Januari 1833 pasuka Belanda yang dipimpin Letkol Vermeulen Krieger digempur oleh pejuang paderi di Sipisang hingga sebagian besar binasa.
Empat hari kemudian 11 Januari 1833 terjadi pemusnahan terhadap pendudukan Belanda di Bonjol.

Dengan keadaan demikian Belanda mulai mencari kontak dengan Tuanku Tambusai guna mengadakan perdamaian, Surat yang dikirim Engelvrecht tidak direspon namun dibalas dengan bunyi surat sebagai berikut :
...neen, Amerongen Wat helpen ons gebeden. Het onrecht heeft te lang geduurd. De Inlander van Tambusai en mandahiling, en zijn en de luhahgemente vormen van ouds den kleinen-man, de dienstbaren, die dus nedering te houden is, overigens de belasting betaler bij uitnemendheid. Neen, Amerongen. Tegen wil en dank bevinden zich de silent-Djawian ook in de smeltkroes..."
(...tidak, Amerongen. Tidak perlu mengharapkan belas kasihan. Kezaliman telah berlangsung terlalu lama. Bumi Putera dar Tambusai dan mandahiling, Kepala dan Luhaknya semenjak dahulu merupakan orang hina, si orang patuh, yang oleh sebab itu mau terus dihina selama-lamanya, pembayar pajak yang paling taat. Tidaklah, Amerongen, Mau tak mau orang Jawi yang tenang itu menggelegak dalam kancah pergolakan..."), Sebutan Orang Jawi itu adalah orang Melayu Sumatera termasuk orang Minang dan Mandahiling, karena sebutan Melayu berarti orang Semenanjung Melaka.

Setelah beberapa hari setelah itu suatu malam bercuaca buruk Tuanku Tambusai beserta pasukannya melakukan penyerangan ke dalam Benteng Rao (Fort Amerongen), perkelahian tanpa senjata berlangsung sampai subuh, menjelang siang Tuanku Tambusai dapat menarik pasukannya keluar benteng.
Penyerangan ini rasa kagum orang Belanda.

27 April 1833 Belanda mengirim surat ke padang dengan bunyi "Wij moeten bergrijpen, dat Tuanku Tambusai schekracht is onaangetast, ondordringbaar..."
(Hendaknya kita mengeri, bahwa kekuatan Tuanku Tambusai adalah kekuatan yang tak dapat diserang, tak dapat diterobos...)

Bulan Juni 1883 di Padang tibalah Jenderal Mayor Riesz dengan membawa pasukan yang besar, Sementara Tuanku Tambusai melanjutkan perang dengan memasuki Angkola, demikian pula di mana-mana perlawanan terus berkobar. 




Continue reading →

Label